Rabu, 23 Oktober 2013

DEBAR

Aku memejam, meletakkan dua telapak tangan di dada. Kebiasaan yang selalu aku lakukan tiap kali dadaku terlalu riuh. Butuh waktu beberapa menit untuk meredakan gemuruh dan mengendalikan senyum yang entah mengapa seperti alarm otomatis jika menyangkut hal-hal tentang kamu, tuan.
Aku menghela napas. Menatap lamat-lamat ponsel di depanku. Berniat menghubungimu, sekedar menanyakan apa yang sedang kamu lakukan atau memberi tahumu bahwa malam ini aku meras kesepian hanya berteman gadis kecil adik perempuanku. seperti biasa, dirumah sendirian. Tapi aku terlalu pengecut. Pada rindu yang tak tahu malu, aku takut. Kamu benar, tuan. Aku takut pada perasaanku.
Mungkin kamu akan tertawa dan bersemangat mencemoohku dengan memanggilku “nona labil” jika saja kamu tahu seberapa sering aku mengurungkan niat untuk menyapamu tiap kali aku merasa sepi dan rindu, seberapa sering aku menghapus pesan yang kupikir terlalu berlebihan untuk kukirimkan kepadamu. Oh, tuan.. Aku menghapusnya. Tak berani menyimpannya di dalam kotak draft karena takut kalau-kalau nanti aku akan terpikir untuk mengirimkannya lagi.
Tuan, aku lebih dari berantakan.
Entah sudah berapa kali aku berkata waktu berjalan terlalu cepat namun tetap tak pernah bisa bersabar menunggu hari kedatanganmu. Hari kita bertemu kembali. Hari kita membagi cerita yang selama ini sengaja disimpan untuk diceritakan saat kita saling bertatap muka dengan alasan yang sederhana. “Karena ingin melihat ekspresimu saat aku menceritakan hal itu”.
Tuan, aku lebih dari berantakan.
Memikirkan hal-hal apa saja yang akan aku dan kamu lakukan nanti. Bingung harus mengenakan apa saat kita bertemu dan berbagi tawa. Mengingat cerita yang mungkin nanti akan aku ceritakan kepadamu. Agar kamu tertawa. Agar aku bahagia.
Sungguh aku lebih dari berantakan.
Maka, tuan. Tak perlulah kau tanya. Sungguh aku merasakan debar yang sama.
Debar yang terlalu besar untuk rongga dadaku. Debar yang membuatku repot menenangkan napas yang memburu.
Aku masih memegangi dadaku.
Dulu, aku sering melakukan hal ini. Biasanya debar yang aku rasa begitu nyeri. Sakit sekali. Luka.
Tapi kali ini berbeda.
Debar ini.. Apa namanya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar