Aku memejam, meletakkan dua telapak
tangan di dada. Kebiasaan yang selalu aku lakukan tiap kali dadaku
terlalu riuh. Butuh waktu beberapa menit untuk meredakan gemuruh dan
mengendalikan senyum yang entah mengapa seperti alarm otomatis jika
menyangkut hal-hal tentang kamu, tuan.
Aku menghela napas. Menatap lamat-lamat
ponsel di depanku. Berniat menghubungimu, sekedar menanyakan apa yang
sedang kamu lakukan atau memberi tahumu bahwa malam ini aku meras kesepian hanya berteman gadis kecil adik perempuanku. seperti
biasa, dirumah sendirian. Tapi aku terlalu pengecut. Pada rindu yang tak
tahu malu, aku takut. Kamu benar, tuan. Aku takut pada perasaanku.
Mungkin kamu akan tertawa dan
bersemangat mencemoohku dengan memanggilku “nona labil” jika saja kamu
tahu seberapa sering aku mengurungkan niat untuk menyapamu tiap kali aku
merasa sepi dan rindu, seberapa sering aku menghapus pesan yang kupikir
terlalu berlebihan untuk kukirimkan kepadamu. Oh, tuan.. Aku
menghapusnya. Tak berani menyimpannya di dalam kotak draft karena takut kalau-kalau nanti aku akan terpikir untuk mengirimkannya lagi.
Tuan, aku lebih dari berantakan.
Entah sudah berapa kali aku berkata
waktu berjalan terlalu cepat namun tetap tak pernah bisa bersabar
menunggu hari kedatanganmu. Hari kita bertemu kembali. Hari kita membagi
cerita yang selama ini sengaja disimpan untuk diceritakan saat kita
saling bertatap muka dengan alasan yang sederhana. “Karena ingin melihat
ekspresimu saat aku menceritakan hal itu”.
Tuan, aku lebih dari berantakan.
Memikirkan hal-hal apa saja yang akan
aku dan kamu lakukan nanti. Bingung harus mengenakan apa saat kita
bertemu dan berbagi tawa. Mengingat cerita yang mungkin nanti akan aku
ceritakan kepadamu. Agar kamu tertawa. Agar aku bahagia.
Sungguh aku lebih dari berantakan.
Maka, tuan. Tak perlulah kau tanya. Sungguh aku merasakan debar yang sama.
Debar yang terlalu besar untuk rongga dadaku. Debar yang membuatku repot menenangkan napas yang memburu.
Aku masih memegangi dadaku.
Dulu, aku sering melakukan hal ini. Biasanya debar yang aku rasa begitu nyeri. Sakit sekali. Luka.
Tapi kali ini berbeda.
Debar ini.. Apa namanya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar